Etika Bermedia Sosial Dalam Islam

Yusuf Al-Qardhawy Al-Asyi, SHI., MH (Pengamat Hukum, Politik, dan Keagamaan)

tribratanewsaceh.com – Etika menurut Marwan (2009) adalah studi mengenai kehendak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan tentang yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatan manusia. Etika juga tidak dapat dipisahkan dengan moral dan akhlak, bahkan salah satu norma yang diakui dalam dunia hukum adalah norma susila. Norma susila mengandung arti bahwa manusia harus menggunakan hati nurani sebelum bertindak terhadap sesuatu. Parameter baik dan buruk harus menjadi sandaran utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Media sosial merupakan salah satu wasilah dalam rangka menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Namun, dalam setiap informasi yang disajikan tidak menafikan etika sebagai norma yang diakui dalam masyarakat. Masyarakat sebagai pribadi etis makhluk Tuhan yang tentunya memiliki jiwa insaniyahnya, seharusnya tidak mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Islam adalah agama samawi yang diturunkan ke bumi untuk menyelamatkan seluruh manusia agar tidak terjerumus kepada perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya dan orang lain. Sesuai namanya, Islam berasal dari kata “salima” memiliki arti selamat atau sejahtera. Setiap diri muslim seharusnya harus menjadi “dewa penyelamat” bagi orang lain.

Kehadiran Islam ke persada bumi ini sesungguhnya untuk memastikan bahwa nilai etika menjadi referensi utama dalam berbangsa dan bernegara. Manusia tidak hanya memiliki sense of belonging semata, tetapi pula wajib memiliki self of hearting, yakni melaksanakan tiga unsur pelengkap, Id, Ego, dan Superego. Ketika nafs amarah dan lawwamah tersebut (Id, Ego, dan Superego) sebagai pembentuk sikap dewasa setiap manusia yang hidup di alam kosmopolitan ini. Tanpa ketiga unsur tersebut mustahil manusia akan melahirkan abdi yang menghargai sesama manusia, sementara Islam menempatkan nilai ukhuwah islamiyah dan wahdatul islamiyah sebagai pranata yang tertinggi setelah mengenal sang khalik. Tidak hanya cukup hablumminallah saja dijalankan dengan mengabaikan hablumminannas.

Dalam kaidah Islam dikenal dengan istilah “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih” (menghindari kerusakan lebih diutamakan dari mendatangkan kebaikan). Artinya bahwa setiap orang Islam tidak ceroboh dan terburu-buru apabila hendak melakukan sesuatu perkara. Terminal tindakan masyarakat Islam bukan hanya melihat sejauhmana kebaikan dapat diperoleh, tetapi wajib hukumnya berusaha agar kerusakan tidak terjadi. Misalnya, dalam menyampaikan/menyajikan suatu informasi kepada publik bukan banyaknya pembaca (viral) yang diutamakan, tetapi wajib diperhatikan bahaya sosial yang akan ditimbulkan. Jangan sampai suatu informasi yang disampaikan menimbulkan kegaduhan dan malapetaka bahkan sampai terjadi anarki sosial.

Islam menempatkan etika di atas segalanya. Sabda Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim mengenai “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berkata baik atau diam” sepatutnya menjadi muhasabah bagi kita semua bagaimana Islam mengajarkan pemeluknya agar hati-hati dalam mengeluarkan kata-kata, bahkan lebih baik silent (diam) daripada banyak bicara apabila diyakini tidak banyak memberi manfaat ril bagi manusia. Jadilah kita seperti emas yang lebih banyak diam, daripada besi banyak bicara, namun harganya murah…!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *