Iptu Sandy : Masakan Aceh Bikin Saya Gak Bisa Move On

tribratanewsaceh.com – Aneka ragam kuliner khas Aceh selalu dapat menggugah selera, termasuk bagi para pendatang. Bumbu-bumbu rempahnya yang begitu kuat dan menyatu mengikat cita rasa hingga membuat para penikmatnya ketagihan. Salah satunya, Kasat Lantas Polres Aceh Utara, Iptu Sandy Titah Nugraha, yang mengaku tidak bisa move on dari masakan Aceh, apalagi selama bulan ramadhan ini.

“Selama empat tahun menetap di Aceh, saya benar-benar sangat menyukai ragam kuliner yang ada terutama olahan daging dan ayam. Bumbu rempahnya sangat tajam dengan aroma yang kuat dan bikin ketagihan. Dulu saya pikir masakan Jawa dan Lampung paling enak, ternyata saya salah. Masakan Aceh lebih nikmat dan lebih terasa di lidah,” ungkap  Sandy, beberapa waktu lalu.

Sebagai penikmat olahan daging dan ayam, Sandy mengatakan, “Gule kambing atau kari kambing Aceh memang luar biasa rasanya, bumbunya pas dan bersantan. Saya juga suka sie reuboh. Apalagi ayam tangkap yang digoreng dengan berbagai rempah dan bumbu dengan aroma daun kari (daun temurui), bawang merah plus cabai hijaunya. pokoknya masakan Aceh bikin saya gak bisa move on lah,” ucap Sandy tertawa.

Selama berada di Aceh, Sandy mencoba berbaur dan memahami karakter orang Aceh yang terkenal keras. “Dari segi karakter sebetulnya itu dari bagaimana cara kita bersikap. Selama empat tahun saya pelajari. Ibaratnya, pintu rumah orang Aceh itu kecil, jika ada tamu ingin masuk, orang Aceh akan menilai dan melihat siapa tamunya, bagaimana sikapnya. Tapi setelah kita (tamu) masuk, ternyata rumah itu sangat luas dengan segala keramahan di dalamnya,” ungkap Sandy.

Sandy mengaku memiliki pengalaman pribadi dengan warga Aceh yang tidak ia kenal, tapi begitu ramah dan peduli. “Jiwa sosial orang Aceh itu tinggi. Saya pernah berkendara ke Banda Aceh. Setiba di kawasan Indrapuri saya tidak kuat menyetir lagi dan terpaksa berhenti karena demam dan muntah-muntah. Masyarakat setempat datang dan menanyakan kenapa. Ketika saya bilang sakit langsung dibuatkan air hangat, diberi obat, disiapkan makan, dan dianggap seperti anak sendiri. Saya merasa di Aceh ini saya punya keluarga baru,” ujar Iptu Sandy tersenyum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *