Kabid Humas Polda Aceh : Ada Tujuan Tertentu Dibalik Penyebaran Berita Hoax

Tribratanewsaceh.com – Polda Aceh menanggapi soal maraknya berita hoax (bohong) yang berdampak pada tindakan provokatif yang beredar di internet dan media sosial.

Menindaklanjuti hal tersebut, Kapolda Aceh Irjen Pol Rio S Djambak melalui Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Goenawan, SH, MH menghimbau kepada masyarakat agar tidak secara bebas menyampaikan informasi hingga dapat merugikan pihak lain.

Menurutnya, hoax merupakan pemberitaan palsu atau usaha menipu bahkan mengelabui pembaca untuk mempercayai sesuatu dengan memiliki maksud dan kepentingan tertentu.

“Hoax itu kan bohong atau palsu, informasi hoax yang beredar di internet, sudah semakin meresahkan dan membahayakan,” kata Kabid Humas Polda Aceh, Senin, (9/1/2017).

Lanjut Kombes Goenawan, penyebaran hoax di internet tentu ada kepentingan dan tujuan agar sang pembuat mendapatkan keuntungan materi atau untuk menyudutkan pihak lain.

“Mereka (penyebar hoax) pasti punya tujuan, coba kita lihat konten hoax yang dibuat, kontennya berisi provokatif untuk menyudutkan pihak lain, dan juga ingin mencari keuntungan materi agar berita hoax yang disebarkan dilihat banyak orang, dilike dan rating webnya meningkat,” jelas Kombes Goenawan.

Membuat dan menyebarkan berita bohong, katanya, tidak dibenarkan oleh agama manapun. Apalagi tujuannya untuk mencari keuntungan materi, namun caranya tidak benar, maka hasil yang didapatkan tidak ada berkahnya.

“Niatnya mencari rezeki, tapi cara mencarinya tidak dibenarkan agama, yaitu dengan menyebarkan berita bohong, jelas ini salah dan hasilnya juga tidak ada berkahnya,” ujarnya.

Selain itu, Goenawan mengatakan seluruh elemen masyarakat juga dapat berperan mengkampanyekan perilaku baik dan etika sopan santun saat berinteraksi di media sosial.

Masyarakat berperan penting menyaring informasi provokatif dan ujaran kebencian yang mudah menyebar melalui media sosial.

“Silahkan berinteraksi di medsos, asalkan tetap menjaga etika baik, kalau perlu mengkampanyekan cara beretika di media sosial,” katanya.

“Jika menemukan informasi, saring dulu, apakah informasi ini positif atau provokatif, jika provokatif jangan disebarkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *