Penggunaan Media Sosial Dalam Hukum Islam

tribratanewsaceh.com – Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, bukan agama imajinatif apalagi destruktif. Rahmatan lil’alamin dapat diartikan sebagai tatanan kehidupan sosial yang penuh makna dan kasih sayang di antara penghuni jagad semesta ini. Antara satu entitas dan komunitas saling menjaga, mengisi, menasihati, dan berbagi dengan kasih sayang, bukan saling “melayangkan”, adu domba, fitnah, dan tindakan-tindakan lain yang tidak sesuai ajaran Islam yang tinggi, yaitu berorientasi akhlakul karimah. Sebab, Rasulullah SAW dipersembahkan oleh Allah SWT ke muka bumi tidak lain adalah memperbaiki dan menyempurnakan kehidupan yang penuh makna (akhlakul karimah).

Setiap tindakan yang merugikan, membahayakan, dan merenggang apalagi mengorbankan ukhuwah tentunya sangat dibenci oleh agama. Islam hadir ke seantaro bumi ini bukan hanya untuk memperbaiki sistem kehidupan agar lebih baik dan sempurna, tetapi Islam menjamin bahwa eksistensi akhlakul karimah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara suatu keniscayaan. Rasulullah SAW. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik bahwa: “ Sesungguhnya aku didelegasikan ke persada bumi ini tidak lain adalah memparipurnakan akhlakul karimah.” Akhlakul karimah bukan dimaknai dengan terminologi sempit, tetapi pengertian akhlakul karimah adalah seluruh tindakan dan sikap yang mulia (noble) dan bukan aksi trouble (berbuat onar).

Sebagai agama paripurna, Islam menempatkan kasih sayang atau cinta kasih di atas segalanya, bahkan tidak dianggap baik atau sempurna keimanan seseorang apabila cinta kasih tidak menjadi ruh dan spirit hidupnya. Begitu juga misalnya dalam menerima dan menebar informasi, harus melalui sensor dan seleksi yang valid, tidak menyebar berita hoax, karena jenis informasi ini merugikan orang lain. Alquran sebagai pedoman tertinggi (the top guidence) umat Islam telah menyebutkan ratusan tahun silam bahwa setiap informasi yang diterima harus melalui mekanisme check and recheck (pasti kebenarannya).

Para ulama sepakat bahwa hukum dasar menggunakan media sosial adalah mubah karena media adalah wasilah (sarana). Implikasi hukum lain tergantung dengan niat dan tujuan usernya. Jika digunakan untuk tujuan yang tidak baik tentunya haram, dan sebaliknya, bila digunakan untuk tujuan baik, maka hukumnya sunat (diberi pahala bagi usernya). Contoh yang haram misalnya dilakukan transaksi sabu atau ganja atau kegiatan lain seperti terorisme dan penyebaran paham liberalisme. Contoh sunat seperti menyambung silaturrahmi via media sosial, mengirim tulisan ilmiah yang bernilai positif, digunakan untuk mendownload video-vedeo pengajian atau ceramah agama, dan lain-lain.

Jadi, media sosial dalam pandangan Islam adalah sangat tergantung kepada tujuan dan niat serta konten dari penggunanya. Logika sederhana adalah media sosial dapat membeli neraka dan dapat membeli surga atau kedua-duanya sekaligus. Wasilah ini bukan sesuatu yang diwajibkan dan juga bukan barang yang diharamkan. Allah SWT akan memberikan harapan hamba-Nya sangat tergantung kepada niatnya, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung kepada niat” (HR.Bukhari-Muslim).

Penulis :

Yusuf Al-Qardhawy Al-Asyi, SHI., MH (Pengamat Hukum, Politik, dan Keagamaan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *