Polisi Periksa 30 Rekanan, Dugaan Kasus Korupsi Pengadaan Ternak Lhokseumawe

tribratanewsaceh.com – Penyidik Satreskrim Polres Lhokseumawe dalam beberapa hari terakhir dilaporkan sedang memeriksa para rekanan untuk melangkapi berkas dugaan korupsi pengadaan ternak di Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe melalui dana APBK tahun 2014 sebesar Rp 14,5 miliar. Pemeriksaan ke-30 rekanan ini sesuai dengan petunjuk dari pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe.

Untuk diketahui, Pemko Lhokseumawe melalui Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian (DKPP) setempat memplot dana Rp 14,5 miliar dalam APBK tahun 2014 untuk pengadaan ternak berupa lembu. Lembu tersebut kemudian dibagikan kepada puluhan kelompok masyarakat di Kota Lhokseumawe. Namun, pada akhir tahun 2015, pihak Kepolisian menemukan adanya indikasi korupsi dalam pengadaan tersebut, sehingga mulai melakukan penyelidikan.

Sejumlah pihak seperti penerima manfaat, pihak rekanan, dan juga pihak dinas terkait pun diperiksa polisi, termasuk meminta BPKP untuk melakukan audit investigasi. Hasil audit menemukan data adanya dugaan kalau proyek pengadaan lembu tersebut adalah fiktif. Berdasarkan fakta ini, maka pada pertengahan Juni 2017 lalu, penyidik pun meningkatkan status kasus tersebut dari penyelidikan ke tahap penyidikan.

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan kembali terhadap 550 orang saksi, baik itu penerima manfaat, rekanan, pihak dinas, dan saksi ahli, di samping kembali meminta audit menyeluruh dari pihak BPKP. Hasil audit BPKP diketahui kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 8,168 miliar. Pada pertengan Desember 2017, penyidik pun menetapkan dua orang tersangka dalam kasus ini, yakni DH (47) sebagai Pejabat Pengadaan dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dan IM (43) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Pada akhir Desember 2017, berkas untuk kedua tersangka tersebut diserahkan ke Kejaksaan Negeri Lhokseumawe. Namun setelah diteliti pihak kejaksaan, berkas dinyatakan belum lengkap. Jaksa pun memberikan sejumlah petunjuk untuk kelengkapan berkas tersebut.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha, Rabu (31/1) menjelaskan, sesuai petunjuk jaksa, pihaknya harus memeriksa sekitar 30 rekanan lagi. Sedangkan, dalam proyek ini melibatkan sekitar 400 rekanan. “Dulunya saat tahapan pemeriksaan rekanan, dari 400 orang rekanan, ada sekitar 30 orang yang belum kita mintai keterangan dikarenakan sedang berada di luar kota ataupun berhalangan hadir,” ujarnya.

Jadi, ujarnya, sekarang ini penyidik sedang melakukan pemeriksaan terhadap 30 rekanan lagi, sembari melengkapi sejumlah materil lainnya sesuai petunjuk jaksa. “Proses pemeriksaan kita lakukan secara bertahap sambil terus melakukan koordinasi dengan jaksa,” imbuh dia.

Budi Nasuha menargetkan, kalau proses pemeriksaan terhadap para rekanan yang tersisa tersebut akan rampung dalam waktu dekat ini. “Pertengahan atau akhir Februari ini, kita targetkan akan kembali melimpahkan berkas kedua tersangka tersebut,” papar AKP Budi.

Sementara itu, saat ditanya apakah dalam kasus dugaan korupsi pada proyek pengadaan ternak tersebut sudah ada tersangka baru, Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Budi Nasuha menyatakan, sejauh ini belum ada. Namun, tukasnya, tidak tertutup kemungkinan di kemudian hari akan ada tersangka baru.

“Kita sementara ini fokus dulu untuk menyelesaikan berkas kedua tersangka di tingkat kepolisian. Bila ini sudah selesai, baru kita lakukan pengembangan kasus lagi,” pungkas AKP Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *