Sosiologi Hukum Dalam Dunia Maya

Yusuf Al-Qardhawy Al-Asyi, SHI., MH (Pengamat Hukum, Politik, dan Keagamaan)

tribratanewsaceh.com РSosiologi hukum dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari  hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial secara empiris analitis. Sementara Satjipto Rahardjo seperti dikutip Hendra Akhdhiat (2011) mendefiniskan sosiologi hukum sebagai ilmu yang mempelajari fenomena hukum yang bertujuan memberikan penjelasan terhadap praktik-praktik hukum. Sosiologi hukum senantiasa menguji kesahihan empiris dari sutau peraturan atau pernyataan hukum, yaitu sesuai atau tidaknya suatu peraturan yang tertera dalam redaksi tertulis.

Berkenaan dengan tingkah laku masyarakat yang menggunakan media maya sebagai sarana penyampaian informasi bukan hanya karena faktor tingkah laku sebagai zoon politicon, tetapi juga dipengaruhi oleh perkembangan zaman yang tidak terukur. Masyarakat sebagai subjek hukum tidak hanya melihat dari satu perspektif terkait persoalan yang dihadapinya, tetapi setidaknya membutuhkan value lain sebagai parameter dalam menghadapi realita dunia empiris, seperti budaya penggunaan informasi melalui dunia maya.

Dunia maya merupakan salah satu media firtual yang memudahkan kegiatan manusia dalam berinteraksi antara satu pihak dengan yang lainnya untuk keperluan komunikasi. Sikap masyarakat yang menggunakan dunia maya tidak seharusnya disalahkan, bahkan pemerintah harus mendukung, sebab larangan penggunaan alat komunikasi dalam dunia maya bertentangan dengan hak asasi manusia.

Antara hukum dan realitas sosial harus berjalan seiring dan saling memberikan manfaat masing-masing. Regulasi sebagai pengatur ketentraman masyarakat harus diposisikan sebagai guide, bukan gate yang menakutkan. Masyarakat user dunia maya pun tidak melihat penegakan hukum sebagai aksi prejudes, tetapi sebagai satu goodwill pemerintah yang mengatur tata tertib dalam masyarakat. Pemerintah sebagai pemilik the top authority dalam sebuah negara, apalagi negara hukum (rechstaaat) seperti Indonesia, tentunya hukum tidak dilihat sebagai pembalasan (vergelding) yang bersifat retributif bagi mereka yang melakukan pelanggaran hukum, tetapi dipandang sebagai bentuk tanggung jawab negara (state responsibility) sebagai bagian dari bentuk perlindungan bagi masyarakat.

Harus disadari bahwa negara eksis karena ada masyarakat, begitu juga masyarakat,  mustahil mampu mencapai keinginan privasi dan kolektifnya apabila peran negara dan hukum tidak berfungsi. Oleh karen itu, penggunaan dunia maya tidak sampai merugikan negara dan orang lain. Dunia maya sebagai sarana dan fasilitas era mutakhir digunakan terhadap hal-hal yang bernilai positif dan tentunya bermuatan dimensi maslahat serta berorientasi pencerdasan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *